Peta dan Data Investigasi Kenaikan Permukaan Laut
Menulis tentang kenaikan permukaan laut tidak selalu memerlukan penggunaan data historis atau proyeksi ilmiah. Pasalnya, dampak praktis fenomena ini sudah terlihat dan memengaruhi kehidupan masyarakat.
“Mulailah dengan siapa yang terdampak saat ini, lalu Kamu bisa menyimpulkan ‘situasinya semakin memburuk’,” saran John Upton, Partnership Journalism Editor di Climate Central, sebuah organisasi berita nirlaba yang meliput sains iklim.
Mendokumentasikan Kenaikan Permukaan Laut
Angka-angka bisa berbicara lantang ketika membahas kenaikan permukaan laut. Seberapa luas fenomena ini sudah terjadi? Seberapa tinggi lagi kenaikannya? GIJN mengumpulkan berbagai sumber daya untuk membantu jurnalis menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, pertama-tama, kami sampaikan catatan singkat tentang sumber daya tersebut dan dari mana asalnya.
Permukaan laut diukur dengan alat pengukur pasang surut di seluruh dunia dan altimeter satelit. Perangkat pengukur pasang surut, yang jumlahnya sekitar 2.000 di seluruh dunia, menggunakan sensor untuk merekam ketinggian permukaan air di sekitarnya. Sementara itu, satelit menggunakan gelombang radio untuk mengukur ketinggian permukaan laut. Untuk informasi lebih lanjut, lihat FAQ tentang pengukuran permukaan laut dari US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Proyeksi kenaikan permukaan laut yang dibuat Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB diterima secara luas dan kerap dijadikan acuan. Proyeksi ini diperbarui pada akhir 2021. Lima skenario diberikan, berdasarkan langkah-langkah yang diambil untuk memperlambat pemanasan global. Pemodelan kemudian dilakukan untuk memprediksi kondisi hingga tahun 2150. Prediksi yang dihasilkan bervariasi berdasarkan lokasi. Prediksi tersebut juga disertai dengan pernyataan tentang tingkat kepercayaan di baliknya.
Untuk mengetahui seberapa tinggi permukaan laut dapat naik, proyeksi dapat diterapkan pada peta yang menunjukkan ketinggian daratan. Akurasi hasilnya sangat bergantung pada ketelitian peta topografi yang dijadikan dasar dan peta yang akurat tidak tersedia di beberapa lokasi. Terdapat beberapa karya ilmiah mengenai akurasi model elevasi digital (DEM) ini, salah satunya adalah yang membahas soal Mesir.
Faktor lain juga berpengaruh. Di beberapa tempat, daratan mengalami kenaikan atau penurunan. Selain itu, jenis pemodelan yang digunakan juga bisa menghasilkan hasil yang beragam. Penggunaan model yang disebut “bak mandi” misalnya, bisa menunjukkan semua daratan yang terhubung dengan laut dan mungkin berada di bawah ketinggian permukaan air tertentu. Model yang lebih akurat, tetapi lebih sulit digunakan, adalah “pemodelan hidrodinamik,” yang memperhitungkan gelombang musiman, gelombang badai ekstrem, erosi, dan berbagai faktor lainnya.
Menjelaskan sumber daya yang digunakan dalam sebuah liputan atau karya investigatif membantu membangun pemahaman pembaca tentang topik tersebut dan meningkatkan kredibilitas karya.
Climate Central: Sumber Daya yang Ramah untuk Jurnalis
Peta-peta kenaikan permukaan laut yang banyak digunakan oleh jurnalis, sebagian besar berasal dari Climate Central. Perangkat Coastal Risk Screening Tool menyediakan peta global yang menandai lokasi-lokasi tertentu yang berada di bawah permukaan air dan dapat diatur berdasarkan ketinggian tertentu. Simak video penjelasan mengenai perangkat ini sebelum menggunakannya. Area yang berpotensi tergenang banjir pada perangkat ini juga dapat diunduh.
Informasi di Climate Central diperbarui secara berkala dengan proyeksi ilmiah teranyar dan peta yang terus diperbarui. Data IPCC terbaru juga telah dimasukkan dalam platform ini. Climate Central menggunakan model elevasi digital milik mereka sendiri untuk daerah pesisir. Saat melihat peta, terdapat deskripsi “detail dan keterbatasan”. Materi lain di situs web menjelaskan opsi skenario, sumber peta, dan informasi mendasar lainnya. Tim di Climate Central menyarankan “peta-peta ini harus dianggap sebagai perangkat penapisan untuk mengidentifikasi tempat-tempat yang mungkin memerlukan penyelidikan lebih mendalam.”
Proyeksi menunjukkan wilayah di New York dan New Jersey yang akan terendam air jika permukaan air naik 10 meter. Gambar: Tangkapan layar/Climate Central
Climate Central telah berpartisipasi dalam investigasi semacam itu dan sering bekerja sama dengan jurnalis di Amerika Serikat. Program Jurnalisme Kemitraan kelompok ini berkolaborasi dengan media di AS untuk melaporkan puluhan berita tentang kenaikan permukaan laut dan topik lainnya. Jurnalis dari luar AS dapat mengirim surel kepada direktur komunikasi Climate Central, Peter Girard, untuk menjajaki peluang serupa.
Climate Central juga telah menggunakan datanya untuk membuat berbagai sumber daya khusus yang menarik. Salah satunya adalah kajian tentang bagaimana kenaikan permukaan laut akan memengaruhi bangunan ikonik di 189 lokasi di seluruh dunia seperti Gedung Pencakar Langit Lujiazui di Shanghai, Tiongkok, Masjid Pusat Lagos di Nigeria, dan Estádio dos Aflitos di Recife, Brasil. Data organisasi ini juga banyak diandalkan untuk studi akademis dan digunakan dalam laporan tahun 2021 oleh Greenpeace yang ditajuki The Projected Economic Impact of Extreme Sea-Level Rise in Seven Asian Cities in 2030.
Sumber Lain tentang Proyeksi Kenaikan Permukaan Laut
Beberapa sumber resmi menyediakan data tentang proyeksi peningkatan atau tren kenaikan permukaan laut di beberapa lokasi. Beberapa didasarkan pada data historis, sementara yang lainnya bergantung pada model IPCC. Namun, sebagian besar informasi tersebut tidak ditumpangkan pada peta elevasi.
The Permanent Service for Mean Sea Level (PSMSL), organisasi yang berbasis di Liverpool, Inggris dan berada di bawah National Oceanography Centre (NOC), menyediakan Tren Permukaan Laut Relatif. Peta dunia PSMSL menunjukkan banyak lokasi, meskipun hanya untuk wilayah Amerika Selatan dan Afrika.
Alat Proyeksi Permukaan Laut dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) AS menunjukkan proyeksi di berbagai lokasi di seluruh dunia berdasarkan laporan AR6 IPCC. Sementara Alat Evaluasi dan Penilaian Permukaan Laut NASA memiliki proyeksi tren untuk banyak lokasi di seluruh dunia berdasarkan data PSMSL dan pengukuran satelit. Jane Lee adalah kontak pers yang dapat dihubungi untuk organisasi tersebut.
Data Tren Pasang Surut dan Arus NOAA AS menyediakan data historis kenaikan permukaan laut dan analisis tren untuk lokasi di 65 negara di seluruh dunia. Kontak pers langsung untuk platform tersebut adalah Jennie Lyons dan ada juga kontak media secara umum .
Proyeksi Permukaan Laut Lokal dari Climate Analytics menunjukkan prediksi tren di lokasi-lokasi pengukuran di seluruh dunia. Data di perangkat tersebut didasarkan pada karya Robert Kopp, ilmuwan dan cendekiawan permukaan laut di Universitas Rutgers AS.
Atlas Interaktif IPCC menunjukkan proyeksi peningkatan kenaikan permukaan laut untuk wilayah-wilayah besar yang didasarkan pada data AR6 IPCC 2021. Namun, menurut Lena Reimann, seorang peneliti pascadoktoral di Vrije Universiteit Amsterdam, atlas interaktif ini kurang bermanfaat bagi jurnalis karena cakupannya yang luas dan karena tidak membahas kejadian ekstrem seperti gelombang badai dan tidak memperhitungkan penurunan massa daratan.
Atlas Interaktif IPCC WGI: Informasi Regional. Proyeksi kenaikan permukaan laut jangka panjang hingga tahun 2100. Gambar: Tangkapan layar
Data Nasional
Peta prediktif dan data baru terus bermunculan secara berkala. Carilah studi yang dilakukan oleh organisasi pemerintah di berbagai tingkatan, serta artikel dari para ilmuwan dan kelompok lingkungan.
Salah satu contohnya adalah National Centre for Coastal Research (NCCR) India. Menurut artikel di Times of India, lembaga tersebut memberitahu Parlemen India bahwa mereka telah menyiapkan 526 peta untuk seluruh garis pantai India untuk menunjukkan daerah-daerah yang rentan terhadap erosi akibat naiknya permukaan laut. Mengenai dampak kenaikan permukaan laut di India, simak artikel di NewsNine.
Ada juga peringatan tentang permukaan laut di Tiongkok. Menurut laporan resmi National Marine Environmental Monitoring Centre, dan telah ditulis Reuters, permukaan laut di China mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah pada 2021.
Pertanyaan-pertanyaan tentang kenaikan permukaan laut yang dapat diajukan kepada pejabat pemerintah antara lain:
- Data apa yang dimiliki pemerintah tentang kenaikan permukaan laut?
- Apakah peta yang dibuat menunjukkan proyeksi kenaikan permukaan laut?
- Apakah proyeksi IPCC terbaru diterapkan dalam peta tersebut?
- Apakah konsekuensi dari kenaikan permukaan laut sedang dievaluasi (dan oleh siapa)?
- Rencana kontingensi/mitigasi apa yang sedang dibuat?
Liputan Berdasarkan Riset
Sebagian besar liputan tentang kenaikan permukaan laut didorong oleh penelitian baru dari para ilmuwan dan pihak lain. Mereka memiliki kemampuan pengukuran yang tak dimiliki jurnalis. Meski demikian, jurnalis dapat mengembangkan temuan tersebut.
Sebagai contoh, sebuah studi akademis memperkirakan terjadinya banjir di resor-resor pantai di Mesir. Seorang jurnalis bisa mempertanyakan dampaknya terhadap bisnis pariwisata lokal.
Laporan lainnya membahas potensi biaya untuk pelabuhan laut. Mungkinkah hal itu menyebabkan meningkatnya biaya untuk adaptasi dan perbaikan fasilitas?
Ada juga riset yang menjelaskan dampak kenaikan permukaan laut pada situs-situs UNESCO di Afrika. Dapatkah hilangnya warisan budaya tersebut dihentikan?
Laporan lainnya berfokus pada potensi peningkatan ketegangan antarnegara di sekitar Teluk Benggala akibat kenaikan permukaan laut. Hal tersebut mungkin memicu konflik geopolitik jangka panjang.
Sumber Regional dan Nasional
Sebuah kota pesisir di Haiti terendam banjir akibat Badai Sandy. Foto: Logan Abassi/PBB/MINUSTAH/Climate Visuals
GIJN telah mengumpulkan sumber informasi regional dan nasional. Saran mengenai sumber tambahan akan sangat kami hargai.
Di luar Eropa dan Amerika Utara, hanya sedikit peta yang menyediakan proyeksi kenaikan permukaan laut. Data tentang Afrika dalam basis data Uni Eropa (LISCoAsT (Large Scale Integrated Sea-level and Coastal Assessment Tool)) digunakan untuk studi tahun 2022 yang berjudul African Heritage Sites Threatened as Sea-level Rise Accelerates. Namun data tersebut tidak tersedia untuk publik karena kurangnya dana.
Para wirausahawan dengan cepat membangun basis data baru seputar perubahan iklim. Tujuannya agar investor dan perusahaan bisa menilai dampak panas, banjir, dan faktor-faktor lain terhadap bisnis mereka. Beberapa di antaranya tercantum di artikel yang ditulis Reuters, tetapi akses ke sebagian besar basis data tersebut berbayar.
Sumber Lainnya
Carilah juga sumber daya nasional dan regional. Misalnya:
- Pemerintah Australia menyediakan layanan Coastal Risk Australia.
- Di Selandia Baru, risiko dipetakan untuk Wellington.
- Otoritas Pemetaan Norwegia membuat peta interaktif.
- Untuk Prancis, lihat peta interaktif yang menggunakan data Climate Central.
Mempelajari Catatan Sejarah
Karena permukaan laut sudah meningkat, penting bagi jurnalis untuk meninjau kondisinya di masa lalu.
Namun, jurnalis perlu berhati-hati: Meskipun berbagai lembaga memiliki data terperinci mengenai ketinggian permukaan laut di seluruh dunia selama beberapa puluh tahun terakhir, ini adalah topik yang rumit. Situs-situs web tersebut dirancang untuk para ilmuwan dengan data yang disertai banyak catatan dan variabel, terutama yang berkaitan dengan pergerakan daratan. Cobalah meminta bantuan para ahli lokal untuk menafsirkan data tersebut.
Jurnalis bisa mencari data historis permukaan laut dari beberapa sumber seperti:
- Beberapa sumber internasional (lihat rinciannya di bawah)
- Pemerintah di tingkat nasional seperti kementerian lingkungan hidup, badan prakiraan cuaca, dan badan pertanian.
- Badan-badan regional, terutama yang terkait dengan sumber daya air.
- Pemerintah daerah, seperti badan perencanaan lahan.
- Sumber-sumber akademis, seperti ahli geografi dan ilmuwan lingkungan.
- Sumber komersial. Sumber-sumber ini mungkin berbayar, tetapi beberapa di antaranya membuka peluang kerja sama dengan jurnalis. Fathom, sebuah perusahaan Inggris yang mengkhususkan diri dalam pemetaan banjir, adalah salah satu contohnya. Mereka memiliki data kenaikan permukaan laut untuk Inggris dan Jepang yang bisa mereka bagikan dengan jurnalis.
Jurnalis juga bisa menggunakan daftar pakar kenaikan permukaan laut nasional untuk mencari pakar terkait bidang ini. Daftar ini disusun oleh National Oceanographic Center di Inggris.
Sejak tahun 1933, PSMSL telah mengumpulkan dan menganalisis data permukaan laut dari alat pengukur pasang surut yang tersebar di seluruh dunia. Panduan berjudul Obtaining Tide Gauge Data menunjukkan informasi dari lebih dari 2.000 stasiun pengukur pasang surut (sebanyak delapan di antaranya berlokasi di Indonesia). Disarankan untuk hanya menggunakan angka tahun pertama dan terakhir untuk menunjukkan kenaikan permukaan laut. Untuk pertanyaan tentang data, kirim email ke: psmsl@noc.ac.uk. Jurnalis juga bisa mengajukan pertanyaan dengan mengirim surel ke: noc@grayling.com .
Data Tren Pasang Surut dan Arus NOAA menyediakan data historis kenaikan permukaan laut dan analisis tren untuk lokasi di 65 negara di seluruh dunia. NOAA juga melacak suhu laut di seluruh dunia, yang dilaporkan dalam Coral Reef Watch. Hubungi Jennie Lyons di jennie.lyons@noaa.gov untuk mengajukan pertanyaan.
National Aeronautics and Space Administration (NASA) memiliki data historis tentang permukaan laut sejak 1993 hingga 2022. Sumbernya tidak hanya berasal dari PSMSL, tetapi juga dari satelit. Untuk mengajukan pertanyaan, hubungi Jane Lee: jane.j.lee@jpl.nasa.gov.
Climate Data Store dari European Commission menyediakan tautan ke halaman yang berisi data harian permukaan laut dalam bentuk grid dari pengamatan satelit sejak tahun 1993 hingga sekarang. Ada juga halaman tentang Mediterania dan Laut Hitam. Untuk mengakses data tersebut, pengguna mesti mendaftar melalui European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF). Untuk info lebih lanjut, silahkan mengontak copernicus-press@ecmwf.int.
European Organisation for the Exploitation of Meteorological Satellites (EUMETSAT), sebuah badan Uni Eropa, memiliki data satelit tentang permukaan laut yang berasal dari sekitar tahun 2010 dan sekarang disediakan oleh satelit Copernicus Sentinel-6. Kontak: Press@eumetsat.int untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Catatan penerjemah: data soal kenaikan permukaan laut di Indonesia dapat diakses melalui Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial (BIG)